Wisata WisataCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
travel

Wisata Murah di Sekitar Padangsidempuan: Menikmati Alam Tanpa Menguras Kantong

Jelajahi wisata murah di sekitar Padangsidempuan: air terjun tersembunyi, homestay ramah kantong, dan kuliner UMKM. Tips hemat untuk backpacker dan keluarga.

29 Apr 2026 · 3 menit baca · oleh Joko Mahendra Wibowo
Wisata Murah di Sekitar Padangsidempuan: Menikmati Alam Tanpa Menguras Kantong

Pagi itu, saya memutuskan menjelajahi Air Terjun Situmurun yang terletak sekitar 40 menit dari pusat Padangsidempuan. Dengan tiket masuk cuma Rp5.000 per orang dan parkir motor gratis, tempat ini jadi pilihan tepat buat yang mau hemat. Sepanjang jalan, saya melewati kebun kopi milik warga dan berpapasan dengan penduduk yang membawa hasil kebun. Udara lembap bercampur aroma tanah basah, sementara gemericik air semakin jelas terdengar. Saya bertanya-tanya, kenapa tempat seindah ini jarang disebut di brosur agen perjalanan? Jawabannya sederhana: belum banyak yang menulis. Dan di situlah letak peluang bagi traveler hemat.

Menelusuri Potensi Wisata Murah di Tapanuli Selatan

Selain Air Terjun Situmurun, masih ada beberapa destinasi murah yang layak dicoba. Saya kemudian mengunjungi Bukit Sipirok, lokasi yang menawarkan panorama perbukitan hijau dan hamparan sawah bertingkat. Dari puncak, saya bisa melihat Danau Marsabut membentang di kejauhan. Biaya masuknya cuma Rp3.000, dan tenda bisa didirikan tanpa biaya tambahan. Saya melihat beberapa keluarga muda memasak mi instan di atas kompor portable, sementara anak-anak mereka bermain layang-layang. Pengalaman seperti ini, menurut saya, lebih berkesan daripada sekadar foto di restoran mahal.

Tak jauh dari Bukit Sipirok, ada Desa Wisata Aek Bilah. Warga setempat membuka homestay dengan tarif Rp50.000 per malam per orang, sudah termasuk makan pagi dan camilan tradisional. Saya sempat ngobrol dengan pemilik homestay, seorang ibu paruh baya yang juga mengelola warung kopi. Ia bercerita bahwa sebagian hasilnya digunakan untuk memperbaiki jalan desa. Inilah contoh nyata wisata murah yang mendukung ekonomi lokal. Saya membeli beberapa bungkus kopi bubuk produksi UMKM setempat seharga Rp15.000, tepat buat oleh-oleh.

Bagi yang suka tantangan, jalur tracking ke Gua Liang Bungkuk bisa jadi pilihan. Tiket masuk Rp10.000, dan pemandu lokal mengenakan biaya sukarela. Saya perlu bawa senter kepala dan sepatu anti-slip, karena gua masih alami tanpa penerangan buatan. Di dalamnya, saya nemuin stalaktit dan stalagmit yang mulai ditumbuhi lumut. Rasanya seperti jadi penjelajah yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat tersebut.

Dari pengamatan saya, kunci wisata murah bukan cuma soal harga tiket, tapi juga kemauan untuk keluar dari jalur umum. Dengan sedikit riset dan sikap terbuka, kita bisa nikmati keindahan alam tanpa harus merogoh kocek dalam. Saya juga menyarankan untuk bawa bekal sendiri, karena di beberapa lokasi belum ada warung. Selain lebih hemat, cara ini bikin perjalanan lebih mandiri. Bagi yang tertarik dengan referensi lebih lanjut, Wikipedia Indonesia bagian pariwisata menjelaskan beberapa destinasi serupa di Sumatera Utara.

Saya pulang dengan kantong masih berisi sisa uang, tapi hati penuh cerita. Justru tempat-tempat yang nggak masuk dalam daftar destinasi populer sering nyimpan pengalaman paling otentik. Saya yakin, masih banyak sudut Tapanuli Selatan yang nunggu untuk dijelajahi. Selama kita punya rasa ingin tahu dan kaki yang siap melangkah, wisata murah bukanlah sekadar mitos.

Air terjun Situmurun dengan air jernih mengalir di antara batu-batu besar

Tag: #wisata murah #destinasi tersembunyi #backpacker #wisata alam #UMKM lokal